Judul: Percy Jackson. Pencuri Petir
Pengarang: Rick Riordan
Ini fiksi fantasi. Ok? Dengan menyebut genre itu saya beharap anda sekalian sudah cukup memiliki gambaran besar mengenai apa yang diceritakan dalam novel ini. Kalau istilah kakak saya membaca cerita fantasi itu seperti sedang dibohongi. Dulu, jaman kakak saya masih mau baca komik, dia menolak baca komik yang ceritanya ada arwah dan sejenisnya, pokoknya fantasi lah, dia bilang “ogah diboongin”. Tapi, membaca novel ini, menurut saya, menarik banget ceritanya, dan saya jadi bilang dalam hati “gw seneng diboongin sama yang kaya gini.” Hehe.
Novel ini adalah bagian pertama dali lima seri. Bercerita tentang petualangan seorang remaja berumur 12 tahun bernama Percy Jackson. Percy adalah seorang blasteran dan akhirnya menjadi pahlawan (pilihan selain pahlawan adalah menjadi pemburu, tapi itu baru ada di buku ketiga). Blasteran, dalam cerita ini, adalah anak hasil pernikahan manusia biasa dan dewa.
Novel ini memang berfantasi dewa-dewa dalam mitologi yunani itu benar-benar ada. Dan, sama seperti dongeng yang dulu ada serialnya di tivi, Hercules, para dewa itu ada yang jatuh cinta dan punya anak dengan manusia. Ternyata, menurut cerita ini, kebiasaan itu belum berubah dalam beberapa ribuan tahun terakhir. Jadi, kalau di serial Hercules dulu, hanya ada hercules yang merupakan campuran dari manusia dan Zeus, di novel ini ada banyak manusia setengah dewa, yang diistilahkan blasteran. Ada anak Ares, Athena, Hermes, dll. Lucu kan?
Ceritanya banyak memiliki kemiripan pola dengan fiksi fantasi lainnya. Misalnya, selama bertahun-tahun Percy tidak tahu bahwa dia blasteran, dia sekolah di sekolah manusia biasa dan dianggap anak bermasalah karena disleksia dan GPPH. Selalu dikeluarkan dari sekolahnya, 6x dalam 6 tahun karena selalu membuat masalah. Tapi sebenarnya dia tidak bisa membaca tulisan berbahasa Inggris karena otaknya diprogram untuk membaca huruf Yunani kuno. Dan memiliki GPPH (gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas), impulsif, karena itu adalah refleks medan perang. Dalam medan pertempuran sungguhan refleks itu memungkinkan anak blasteran untuk bertahan hidup.
Sampai ketika akhirnya monster semakin menyadari akan keberadaan Percy, semakin bisa mencium baunya sebagai blasteran, nyawanya semakin terancam, dan akhirnya dia masuk ke Perkemahan Blasteran (sejenis Hogwarts di Harry Potter). Perkemahan ini adalah tempat yang dilindungi sihir sehingga para blasteran aman dari monster dan disana mereka mendapatkan pelatihan. Lagi-lagi, mirip asrama Hogwarts, di perkemahan blasteran terdapat 12 kabin. Masing-masing dinisbatkan pada satu dewa dan penghuni di dalamnya adalah anak dari dewa ybs. Jadi anak apollo akan tinggal di kabin apollo, anak athena tinggal di kabin athena, dst.
Saya ini adalah sejenis pe-review yang kurang suka menceritakan kembali isi bukunya. Jadi bagi anda yang tertarik untuk membaca novel ini dan tidak suka spoiler, tenang saja, saya tidak akan menceritakan siapa ayah Percy, apa saja yang akan ditemui dalam misi, atau siapakah dewa yang berkhianat dan siapa pencuri petir sesungguhnya. Saya tidak tertarik menceritakan itu. Hehe.
Oke, saya akui, novel ini memang tidak salimul aqidah sekali. Tadi sudah saya bilang, disini diceritakan bahwa dewa yunani itu ada dan merekalah yang berkuasa mengatur dunia. Ada zues si penguasa langit, poseidon penguasa laut, dll. Mungkin juga novel ini sarat konspirasi, entah. Tapi saya suka membacanya karena kagum dengan imajinasi penulisnya. Saya suka melihat bagaimana dia mensastrakan mitologi yunani sehingga terasa lebih mudah dicerna.
Alasan lainnya, mirip dengan alasan saya membaca novel lain, saya suka mengamati cara penulis menyampaikan cerita, diksi yang digunakan, perumpaan yang dipakai. Yah, itung-itung belajar nulis novel lah, itung-itung belajar mensastrakan suatu sejarah, itung-itung belanja kata juga. Novel ini juga mengandung sedikit humor. Humor khas amerika. Beberapa humor yang asik dan cerdas menurut saya. Kadang saya dibuat nyengir karena sebuah pernyataan yang mungkin tidak membuat orang lain nyengir juga. Misalnya ketika menggambarkan Hermes, dikatakan “Semacam orang yang bisa segala macam, tapi tidak ahli dalam satu pun”. Hehe. Mungkin anda bingung dimana letak lucunya, tapi saya ketawa karena merasa kalau dari penggambaran ini, saya memiliki kemiripan dengan Hermes.
Satu lagi kekuatan penulis di novel ini adalah perumpaan yang dia buat. Unik, kadang lucu. Dan si penulis banyak sekali membuat perumpaan di novel ini. Wajar sih, mengingat ini cerita fantasi, jadi Percy harus banyak perumpaan agar kita para pembaca bisa mendapatkan gambaran yang baik dan bisa membayangkannya. Atau kadang perumpaan diberikan untuk menggambarkan pengindraan lain Percy, misalnya “baunya seperti pizza bawang putih berjamur yang dibungkus celana olahraga”. Bagi saya, pilihan celana olahraga itu terasa unik sekali. Hehe. Atau lagi, karena Percy memiliki gangguan GPPH, kadang isi otaknya terasa aneh dan liar sekali. Misal waktu dia ketemu Hades, di suasana yang mencekam, genting, dan berbahaya, sempat-sempatnya Percy berpikir “hal mengerikan apa yang harus dilakukan orang dalam hidupnya supaya dapat dianyam menjadi celana dalam Hades?”. Oalah..sempet-sempetnya mikirin celana dalam Hades, sang penguasa orang mati. Haha.
Ada satu quote yang saya suka di novel ini, sewaktu membahas Ares, dewa Perang. Ares punya kekuatan. Cuma itu yang dia punya. Kekuatan sekalipun kadang-kadang harus tunduk pada kearifan. Di sini diceritakan, dalam sebuah duel, Ares yang kuat, akhirnya kalah oleh Percy (yah, yang ini spoiler :p) yang bisa dibilang blasteran ingusan. Karena kekuatan bukanlah segalanya. Kadang, kearifan bisa mengungguli kekuatan.
Begitulah. Novel ini, nasibnya mirip dengan novel fiksi fantasi lainnya di tangan saya, berat untuk diletakkan sebelum selesai. Saya menamatkannya dalam waktu 2 hari, itupun karena hari pertama saya ketiduran.