Judul: Lelaki Tua dan Laut
Pengarang: Ernest Hemingway
Apa yang mendasari anda membaca atau membeli buku tertentu? Kalau saya, banyak. Yah, karena anggaran membeli buku saya tidak sebanyak buku yang ingin atau mestinya saya beli. Maka perlu proses memilih dalam membeli buku. Salah satu faktor nya (tentang faktor lainnya mungkin akan saya bahas di tulisan lain, kalau anda memang tertarik untuk tahu) adalah testimony. Yap, kesaksian dari orang lain bahwa buku itu memang bagus, atau bahkan sampai direkomendasikan untuk dibaca akan sangat mendorong saya untuk membeli atau membaca sebuah buku.
Awalnya, saya tidak tertarik dengan buku ini. Karena selain judulnya tidak menarik, gambar covernya juga. Dulu, waktu sma saya suka membaca banyak novel. Baik itu novel yang tersedia di perpustakaan sekolah, novel yang suka “muncul” di buku pelajaran bahasa Indonesia, seperti “Belenggu”, atau.. ah, bahkan saya sudah tidak ingat lagi judul-judulnya, novel karya pujangga lama, pujangga baru, dll. Atau novel-novel berbahasa inggris yang diterbitkan dian rakyat, saya pinjam dari teman seperti “Silas Marner”, dongeng yunani “daedalus and icarus”. Novel chicklit, waktu saya sma gramedia mulai me-launching chicklit seperti “Bridget Jone’s Diary”, atau bacaan remaja “the princess diary”, karyanya Meg Cabot itu. Novel detektif karya Agatha Christie dan Conan Doyle, sampai novel-novel islami dari mizan atau syamil. Tapi novel ini, saya tidak tertarik.
(kalau diinget-inget lucu juga, masa SMA adalah masa saya banyak sekali melahap bacaan fiksi, dari komik sampai novel, apalagi pas kelas 3, dan masa itu tak pernah terulang sampai sekarang)
Suatu hari saya baca sebuah novel, tokoh wanitanya orang inggris. Dia berkenalan dengan pemuda amerika, lewat internet. Si cewek datang ke amerika untuk menemui pria itu, memang diundang juga. Salah satu hal yang menarik adalah, cewek ini seorang jurnalis, pandai, suka baca. Cowoknya seorang pengusaha fitness, taunya tentang kebugaran doang. Si cewek agak kecewa karena cowo amerika itu tidak tahu Ernest Hemingway dan belum pernah baca novelnya “the old man and the sea”. Padahal novel ini fenomenal banget. Novel ini menyabet hadiah puleitzer tahun 1953 dan sekaligus mengantarkan Hemingway meraih nobel sastra 1954. Cewe inggris ini kecewa karena si pria amerika tidak mengenal salah satu pengarang Amerika terkemuka sepanjang jaman.
Saya jadi tertarik, pengen baca novel ini juga. Emangnya kaya apa sih?
Sayangnya masa sma keburu lewat tanpa saya pernah baca. Mau baca dari mana saya bingung. Di toko buku tak ada. Di perpus fakultas tak ada. Di perpus UI, kayanya tak ada juga deh. (saya malah pinjem novel lain dari perpus UI). Pernah sekali lihat di toko buku, saya ngga beli, kayanya karena tidak di-budget-kan kesana. Eh saya lihat buku ini di salah satu rak di book fair kemarin, saya belilah.
Begitu pulang saya langsung baca, dan menurut saya buku ini…jreng jreng jreng..
Biasa aja tuh
Hehehe
Mungkin seleranya orang tahun 50-an beda dengan orang tahun 2010. Tapi katanya sedemikian populernya novel ini sehingga berkali-kali difilmkan dn terus dibaca orang di berbagai penjuru dunia hingga saat ini. Yah. Mungkin selera saya memang beda dengan orang di berbagai penjuru dunia.
Novel ini ceritanya sederhana banget, asli. Cuma menceritakan tentang lelaki nelayan tua yang berlayar menangkap ikan, udah. Tapi ada bumbu-bumbunya. Karena menangkap ikannya tidak dengan perjuangan mudah, sampe 1 novel buat nyeritain nangkep ikan doang. Mungkin itulah hebatnya novel ini yak.
Hemingway mendeskripsikan segala sesuatunya dengan detail. Tentang perasaan, apa yang terbersit di dalam hati lelaki tua, bagaimana lingkungan sekitar seperti laut, langit, sinar matahari, angin, perahu, juga metode yang digunakan lelaki tua sampai akhirnya dia membawa pulang ikan (sebenernya kurang tepat disebut ikan, kenapa? Baca sendiri dong. Hoho) hasil tangkapannya. Mungkin disinilah sisi kehebatannya, sementara saya justru tidak suka. Saya kurang suka dengan hal yang terlalu deskriptif dan detail, biasanya saya skip, seperti Maryamah Karpov itu, sampai sekarang saya belum baca keseluruhan buku, yang penting intinya dapet lah.
Yaya, saya ini tidak suka dengan hal yang bertele-tele dan banyak basa basi, saya suka yang langsung ke inti permasalahan. Padahal sebaliknya, kalau saya sendiri yang menulis atau ngomong, saya sukaaaa sekali bertele-tele, saya sukaaa sekali menambahkan banyak bumbu, sampe teman-teman saya gemes pengen ngelempar saya pake lemari. (Ya ALLAH ampunilah hamba). Dan anehnya si ai pernah minta ajarin gimana caranya nulis bertele-tele seperti di sebuah tulisan saya. Dunia memang aneh.
Novel ini menunjukkan pada kita nilai sebuah keyakinan. Bagaimana seorang lelaki tua, teguh pada keyakinannya tersebut, dan berusaha membuktikannya, bahwa keyakinannya benar. Novel ini juga menunjukkan pada kita nilai pantang menyerah. Jika kau sudah memilih untuk A, maka selesaikanlah, begitulah kira-kira.
Bagi yang mau tertarik dan mau baca dipersilakan, lumayan untuk memperkaya khazanah kesusatraan..(tsah..bahasanya..tau dah bener atau ga). Semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar