Selasa, 18 Desember 2012
Dan Akhirnya Si Perempuanpun Move On
Judul: Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 264 hlm
Ada satu hal menyenangkan yang saya dapat setelah memutuskan untuk mematikan akses internet dari henpon saya untuk sementara waktu. Ianya adalah berhasil menghabiskan sebuah novel dalam sehari. Ayay! Entah kapan terakhir kali saya menghabiskan satu buku (buku ya bukan komik) hanya dalam sehari, sepertinya sudah lama sekali.
Ketika henpon masih selalu terhubung internet, tiap kali saya tidak tahu mau melakukan apa, ketika terjebak momen untuk menunggu, istirahat sambil rebahan, maka henpon-lah teman pembunuh waktu. Tapi ketika dia sudah tidak terkoneksi internet, maka henpon itu tak ubahnya jam digital saja, hanya ditengok untuk mengetahui waktu. Itupun kalau saya sedang tidak mengenakan jam tangan.
Tapi kini beda, sambil menunggu saya mengeluarkan buku, dan membaca lembar demi lembarnya. Hingga buku yang sebenarnya juga tak terlalu tebal ini bisa khatam dalam hitungan jam.
[ah sudahlah Ludi, pengantarmu terlalu banyak *toyor diri sendiri*]
Novel ini adalah novel pertama Tere Liye yang saya baca. Padahal ini bukan novel Tere Liye pertama yang saya punya atau saya pinjam. Ceritanya tentang dua kakak beradik pengamen jalanan yang bertemu dengan seseorang baik hati. Kehadiran orang tsb seolah malaikat penolong bagi keluarga mereka.
Kakak beradik itu bertemu dengan malaikat penolong mereka secara kebetulan di atas bis ketika mereka mengamen. Si kakak perempuan terkena paku payung di kakinya. Lalu pria (ya, malaikat penolongnya adalah seorang pria berusia 25 tahunan) membantu menyeka darahnya dengan sapu tangan yang ia bawa. Tidak hanya sampai disitu,
akhirnya pria tsb membiayai sekolah mereka berdua dan juga membantu keuangan keluarganya.
Konflik utama novel ini adalah urusan perasaan. Heu. Karena si kakak perempuan akhirnya jatuh cinta pada pria tsb. Dia jatuh cinta sejak umurnya 11 tahun. Layaknya Yuni Shara dan Rafi Ahmad, perbedaan umur belasan tahun tidak menghalangi anak perempuan ini untuk melabuhkan cintanya (tsah, gw ngetik sendiri geli sendiri). Seorang gadis kecil berusia 11 tahun jatuh cinta pada pria dewasa berumur 25 tahun. Perasaan ini terpendam hingga si gadis menjadi wanita dewasa, sepuluh tahun kemudian.
Bagi saya, bagian paling menarik adalah di bagian awal novel ini. Yaitu ketika filosofi daun jatuh pertama disebutkan. “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.” Inspiratif banget. Dan jadi semakin menarik karena rasanya insight-nya pas banget dengan hidup saya belakangan ini. Bahwa kita seharusnya mengikhlaskan segala sesuatu yang telah terjadi dalam hidup. Meridhoi segala ketentuanNya meskipun itu tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Layaknya daun yang jatuh, meski ia terpaksa lepas dari pohon yang selama ini menghidupinya, ia tidak membenci angin.
Cara penuturannya juga menarik. Alurnya maju-mundur dengan sudut pandang orang pertama, Tania, si kakak perempuan. Tania di masa kini menceritakan perjalanan hidupnya sepuluh tahun lalu. Detail keadaan menit demi menit Tania bercerita digambarkan dengan apik tanpa tercampur dengan kisah masa lalunya.
Namun novel ini kurang seru buat saya karena saya sudah bisa menebak ceritanya dari awal. Yaya, meski tidak semua kejadian persis seperti prediksi saya, tapi garis besarnya sama. Dan ada seorang laki-laki jatuh cinta pada anak-anak berumur 12 tahun bagi saya terasa tidak masuk akal (maaf ya kalau spoiler, hehe). 12 tahun bagiu saya masih anak-anak. Beberapa hari lalu ada pasien di ruang rawat anak perempuan berumur 12 tahun, anaknya memang tinggi. Tapi dari perilakunya tetap saja anak-anak. Barangkali memang ada kemungkinannya, tapi tetap saja aneh buat saya. Hehe.
Pada bagian akhir juga terasa terburu-buru. Setelah di tiga perempat novel kita terhanyut dengan cerita, terasa emosi dan konfliknya, perempat terakhir rasanya buru-buru. Saya tidak bisa menyelami dan ikut terbawa gereget-nya. Lepas aja gitu.
Ada juga percakapan yang tidak tepat. Percakapan antara Tania dan Dede (adiknya), tapi Dede memanggil Tania dengan sebutan Kak Ratna, alih-alih Kak Tania. Dan itu sampai percakapan mereka selesai. Ganjil banget kan?
Saya beri novel ini 3 bintang, untuk skala 1-5. Bolehlah kalau begitu mulai sekarang saya baca novel Tere Liye lainnya. Hehe.
Oiya ini tambahan, ga penting sebenarnya, novel ini sukses untuk memancing ketertarikan saya di awal karena settingnya. Gerai fotokopian, town square, warung tenda makanan, rasanya semua familiar. Saya membatin kenapa latar tempatnya mirip sekali dengan margonda, eh ternyata benar. Tania bercerita dari lantai 2 toko buku di margonda. Jadi rasanya mudah sekali dibayangkan apa saja yang sedang Tania lihat saat itu. Otak saya tak berhenti-henti menebak tempat-tempat yang disebutkan oleh penulis dalam novel. Ah, Depok, bikin nostalgila.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar