Judul: The Kite Runner
Pengarang: Khaled Hosaini
Penerbit: PT Mizan Pustaka
Tebal: 496 hlm
Buku ini bercerita tentang kehidupan seorang Afghan bernama Amir dan persahabatannya dengan Hassan. Amir adalah seorang Afghan dari kaum yang terhormat, Pasthun dan anak dari orang terpandang dan kaya di desa tersebut. Ibunya sudah meninggal setelah melahirkannya, sehingga Amir hanya hidup bersama ayahnya dan ditemani seorang pelayan dan anaknya yaitu Ali dan Hassan. Dikarenakan tinggalnya yang berdekatan, pekerjaan Hassan dan ayahnya sebagai pelayan keluarga Amir, umur mereka yang hanya beda 1 tahun, dan besar di lingkungan yang sama, bermain di halaman yang sama membuat Amir dan Hassan menjadi sahabat yang sangat dekat. Namun karena status dan kaumlah membuat Amir tidak pernah mengakui Hassan sebagai teman dan hanya bermain dengannya ketika tidak ada orang. Dan karena status dan kaum pula Hassan begitu setia dan hormat pada Amir. Hubungan mereka berdua bisa dibilang sangat unik, mereka bisa dikatakan sahabat yang sangat dekat tapi juga bisa dibilang pelayan dan majikan.
Meskipun Amir adalah anak seorang tuan besar, dihormati banyak orang, memiliki ketegasan dan kewibawaan seorang pria sejati, dia sama sekali tidak menuruni sifat ayahnya. Amir lebih menykai membaca buku dan membuat cerita ketimbang bermain bola atau atletik. Amir tumbuh menjadi anak yang pengecut, lari dari permasalahan dan Hassanlah yang kerap membelanya. Hal inilah yang membuat Babanya merasa kecewa dan tidak puas dengan Amir. Amir tumbuh menjadi anak yang sibuk mencari simpati Babanya dan kadang iri dengan perhatian Babanya terhadap Hassan.
Sampai suatu hari di tahun 1975 terjadilah sebuah tragedi. Amir mengkhianati Hassan karena kepengecutan dan prioritasnya terhadap orang terpenting dalam kehidupannya, Baba. Sebuah dosa yang mengahntuinya selama bertahun-tahun setelahnya. 26 tahun kemudian sampailah kesempatan itu, kesempatan untuk Amir untuk menebus kesalahannya, kembali menuju kebaikan.
Buku ini bersetting Afghanistan, Pakistan, dan Amerika. Menceritakan kisah hidup seseorang sejak dia berumur 12 tahun dan tinggal di Afghan yang kemudian pindah ke Pakistan dan akhirnya Amerika. Diceritakan dengan klimaks dan anti klimaks yang bergantian. Pembangunan karakternya setiap tokoh sangat baik, sehingga setiap karakter dirasakan begitu hidup dan nyata. Kepiawaian penulis dalam bercerita menggunakan sudut pandang orang pertama patut diacungi jempol, karena pembaca dapat dengan mudah menyelami dan merasakan perbedaan serta perubahan kedewasaan seorang Amir tanpa menjadi rancu dan tercampur antara karakter Amir belasan dan Amir 30-an.
Kehebatan lain buku ini adalah ceritanya yang tak terduga, disaat pembaca menyangka bahwa kisahnya sedikit lagi selesai tapi ternyata masih ada lagi kejadian atau tragedi. Maka dari itu saya bilang klimaks dan antiklimaks yang bergantian.
Dikarenakan buku ini menceritakan bertahun-tahun kehidupan seseorang, jadi tidak mungkinlah setiap momen diceritakan dengan mendetail. Di bab-bab awal buku ini cerita Amir dikisahkan dengan rinci, detail sehingga kita bisa lebih menyelaminya. Namun di bab-bab pertengahan, ketika Amir dewasa dan menjalani kehidupannya di Amerika, alurnya menjadi cepat dan setiap momen berpindah satu dengan lainnya jadi terasa terburu-buru jika dibandingkan dengan kisah-kisah di awal. Adanya kebetulan dengan kemunculan orang lama juga mengurangi sedikit nilai dari buku ini. Kalau menurut pendapat pribadi saya, jadi terkesan dipaksakan (jadi inget sinetron Indonesia, penjahatnya dia-dia lagi atau novel—novelnya Kang Abik “eh kok pas banget dia lagi?”) dan akan lebih baik lagi kalau menggunakan tokoh baru saja.
Tapi generally, buku yang luar biasa, sebuah pencerahan untuk masyarakat dunia, tentang Afghanistan, kebudayaan, nilai dan tradisinya, apa yang terjadi disana, bagaimana kehidupan masyarakat yang selalu ditimpa perang itu, dan betapa perang telah menimbulkan begitu banyak luka dan kesedihan. Saya jadi teringat ketika SD dulu, saat perang Afghan bergejolak, begitu juga negeri Islam yang lain, Bosnia, Cechnya, ketika nasyid semua bertemakan perjuangan dan jihad di negeri itu –ga kaya nasyid-nasyid centil jaman sekarang—tidak banyak masyarakat yang tahu bagaimana keadaan disana, dan tentu saja tidak banyak yang berempati. Dengan kehadiran buku ini semoga mata masyarakat dunia terbuka, bahwa penjajahan di atas bumi manapun harus dihapuskan, bahwa tidak ada satu bangsapun yang berhak menindas bangsa lainnya, termasuk Israel atas Palestina. Semoga. (jadi inget wawancara Ahmadinejad dengan wartawan harian Der Spiegel Jerman)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar